Kamis, 20 November 2014

ELFAST TOEFL Camp Oktober 2014

Minggu dini hari, 12 oktober, saya berangkat menuju Kampung Inggris, Pare. Tujuan utamanya sih buat refreshing, karena udah mulai jenuh dengan rutinitas yang sistematis dan membosankan di Jogja. Nah, Pare dipilih karena sekalian liburan gue tetap bisa belajar. Berbekal searching-searching di internet sebelumnya, ELFAST dipilih sebagai lembaga kursus tempat dimana saya akan belajar. Perihal pemilihan program Toefl, cuma kebetulan karena hanya program Toefl Camp yang nyediain tempat kursus sekaligus camp tempat menginap. Jadi gak susah lagi nyari kos-kosan.

Nah, untuk camp di elfast ini ukuran setiap kamarnya sekitar 3m x 3m dengan 2 ranjang tingkat, jadi setiap kamar ditempati 4 orang. Saya sekamar dengan Sudirman, manusia "aneh" dari Jakarta yang terobsesi pada Kopassus dan Gultor. Punya nama samaran Ar Rizal yang entah apa maksudnya. Paling rajin buat bersih-bersih tapi paling males kalau ikut scoring.

Dewa Ngakan bla bla bla, nama lengkapnya panjang benar, waktu sebulan belum cukup buat ngehafalnya. Terobsesi buat kuliah di Jerman, menyusul pacarnya yang telah duluan. Semoga kecapaian deh.

Terakhir, Reza, paling berondong di antara kami berempat, baru lulus SMA, (mungkin) memutuskan untuk belum lanjut kuliah hingga akhirnya mengungsi sementara ke Pare. Punya kakak cewek yang cakep, juga lagi kursus di ELFAST. Lumayan buat dicengin. Bersama merekalah sebagian besar waktu saya di Pare dihabiskan.

Terhitung senin, keesokan harinya, saya resmi jadi bagian dari Elfast. Memulai rutinitas baru, Belajar Vocabulary dari jam 05.00 - 06.00, Listening (07.00-08.30), Structure (08.30-10.00), Reading (10.00-11.30), Study club (14.30-16.00) dan Scoring 3 kali dalam sepekan, senin, rabu dan jumat di jam 19.15-selesai. Cukup padat, tapi dengan ritme belajar yang enjoy dan para tentor yang ahli di bidangnya semua bisa dilalui dengan mulus. Walau gak mulus-mulus banget sih, karena beberapa kali juga bolos karena alasan capek, ketiduran dan alasan yang dipaksakan ada lainnya.

Selain rutinitas resmi tersebut, hari-hari biasanya dilalui dengan sepedaan, kalau sepedaan pastikan jangan Sudirman yang di depan dan jadi penunjuk jalan. Kalian bakal dibawa entah kemana dan jauh banget. Pulang-pulang badan bakal berasa remuk. Futsal juga rutin tiap kamis malam, mumpung lagi gak scoring. Selain itu, di akhir pekan anak-anak Toefl Camp pada rajin jalan-jalan, di akhir pekan pertama saya gak ikut karena mesti balek ke Jogja Buat ikut tes di OJK. Di minggu kedua, jalan-jalan ke air terjun yang entah apa namanya. (Kalau gak salah sih Tretes, gak tau juga itu nama daerahnya atau nama air terjunnya). Sebelum sampai ke air terjun kita mesti mendaki bukit dengan berjalan kaki sekitar setengah jam. Pengalaman buruk pas pulang dari air terjun, leher saya digigit ulat bulu, jadilah gatal-gatal dan pedih di saat bersamaan hingga keesokan harinya. SIAL!



Di minggu ketiga, perjalanan makin jauh, kali ini liburan ke Pacitan!

Berangkat Jum'at malam, kami berwisata ke pemandian air hangat Tirto Husodo, Goa Gong, Pantai Klayar dan berakhir dengan berenang dan menikmati matahari senja serta sunset di Pantai Banyu Tibo. Eh iya, kami juga sempat mampir ke rumah semasa kecil mantan presiden Indonesia ke-6, SBY.

Goa Gong

Pantai Klayar

Di minggu terakhir makin banyak acara, dari bakar-bakar jagung sampai jalan-jalan ke Goa Surowono. Keakraban makin lekat, dan merasa udah bersaudara dengan mereka. Jadi pas mau balik ke Jogja lumayan sedih juga berpisah sama mereka. Sebulan bersama ternyata sukses membuat banyak cerita, hingga memaksa saya meninggalkan separuh hati di Pare sana.

Semoga akan ada waktu bersama kembali, teman :)

Senin, 06 Oktober 2014

Graduation moments

Sabtu, 30 Agustus 2014 saya akhirnya wisuda. Ibu khusus datang dari Lubuk Jambi untuk wisuda pertama anaknya. Selain ibu, dari kampung Nenek, Pak Nga, Mak Tonga, dan Mai Ase juga datang. :))

Demi menghindari tuduhan no pic = hoax, ini beberapa foto yang bisa jadi bukti :p 













Jumat, 26 September 2014

#AuguriCapitano

Francesco Totti.

38 tahun sudah sejak kamu dilahirkan, kapten. Tak terasa pula bagi kami romanisti telah menyaksikanmu bertahun-tahun. Hingga sekarang sampai sudah kau ke usia yang mereka bilang terlalu tua untuk ukuran seorang pesepakbola profesional. Tapi dengan kokohnya tubuhmu, dan kuatnya semangatmu, usia hanya akan jadi angka tanpa makna.

Mungkin kau sudah tak secepat dulu, tendanganmu tak semematikan ketika itu, tapi visimu, kemampuanmu tetap membuat kamu jadi salah satu yang terbaik di antara mereka. Di lapangan hijau kau tetap seniman agung, karyamu menawan serupa lukisan Pablo Picasso dan Vincent Van Gogh di atas kanvas. 

Saat rekan seusiamu perlahan memutuskan berhenti, kau tetap jadi orang yang berdiri di garda paling depan penyerangan AS Roma. Ban kapten yang tak pernah lepas dari lengan kirimu, jadi tanda bahwa kau jadi pemimpin abadi di tim ini. Kau simbol, kau bendera, dan kau adalah AS Roma itu sendiri. AS Roma adalah Totti dan Totti adalah AS Roma. Seperti yang Baldini pernah katakan, "Tidak ada sepakbola di mana Totti mengenakan jersey selain AS Roma".

Meski kini sampailah kita pada tahun-tahun terakhir karirmu, Waktumu di dunia sepakbola mungkin juga tak akan lama lagi. Akan ada yang menggantikanmu untuk menjadi yang paling depan saat memasuki lapangan. Akan ada yang menggantikanmu ketika wasit memanggil kedua kapten saat pertandingan hendak dimulai. Tapi di hati para romanisti kau tak bisa terganti. Ce solo un capitano!

Semoga di penghujung karirmu, kau bisa merengkuh scudetto lagi. Lalu mengangkat si kuping besar, piala yang kau idamkan selama ini. Selalu doa terbaik untukmu kapten, pemimpin sekaligus penabur inspirasi bagi romanisti. 



Selamat ulang tahun ke 38 kapten. Bahagia untukmu.
Ketika kelak Stadio della Roma resmi digunakan semoga kau masih bisa bermain di sana.


e il momento del capitano! e il nostro capitano! e il simbolo di Roma! e della romanita e il gladiatore gialorosso! e il bimbo de oro! con il numero 10.. FRANCESCOOOO TOOTTTTTIIIII




Senin, 22 September 2014

Obsessive Compulsive Disorder

Pernah ngerasa terlalu was-was dan pikiran jadi menetap hingga tak dapat dikendalikan?
Atau selalu cemas hingga melakukan suatu tindakan secara berulang?
Gue pernah!

Contoh kasus, pas keluar rumah gue udah ngunci pintu. Akan tetapi, karena cemas, di perjalanan gue memutuskan untuk balik lagi ke rumah buat mastiin pintu bener udah kekunci apa belum. Dan ternyata, pintu emang udah kekunci!

Kejadian ini terus berulang, padahal sebelum pergi gue udah yakin pintu udah dikunci. Tapi tetap memutuskan balik pas perasaan cemas datang kembali. Bahkan ketika tempat tujuan udah dekat, gue tetap tak bisa melawan rasa cemas itu dan membuat gue akhirnya memutuskan buat balik lagi, dan keadaan tak berubah seperti sebelum-sebelumnya, pintu emang udah kekunci. Waktu jadi sia-sia. Banget.

Mulai resah dengan keadaan berulang, gue googling tentang keresahan tersebut, lalu ketemulah penyebabnya: OCD! Bukan, ini bukan program buat diet. Tapi Obsessive Compulsive Disorder, semacam kelainan psikis dimana penderitanya dituntut buat jadi perfeksionis dalam hal yang ia lakukan. Nah, setelah banyak baca  gue jadi tau cukup banyak tentang kelainan ini: untuk kasus gue ini masih tergolong mild-OCD, atau bisa dibilang masih ringan. Di keadaan yang lebih buruk, pengidap OCD ada yang jadi takut kuman, hingga selalu berulang menyuci tangan dan selalu menggunakan sarung tangan bahkan sampai tak mau bersentuhan dengan orang lain.


Pernah nonton film The Aviator, As Good as it Get, atau Cold Eyes? Itu segelintir dari banyak film yang mengangkat tema OCD. Jadi, OCD sebenarnya bukan cerita baru lagi tapi sudah menjadi pembahsan publik hingga menjadi inspirasi dari banyak film. Bahkan di dunia nyata, public figur seperti Cameron Diaz, Leandro Di Caprio, Daniel Radcliffe hingga David Beckham juga mengidap kelainan ini.

Dulu pas lagi nonton Cold Eyes gue ngerasa OCD itu keren, bagaimana enggak seorang detektif muda pengidap OCD Ha Yoon-Joo (Han Hyo-Joo) bisa mengingat setiap detail kejadian hanya dengan melihat kejadian itu sekilas. Dia mengetukkan jarinya ke meja ketika mencoba mengingat detail kejadian dan hasilnya ia ingat semuanya! Gue kagum, bahkan sampai nyobain gaya ngetuk jarinya pas ujian komprehensif kuliah. Dan hasilnya tetap aja gue gak ingat dengan jawaban pertanyaannya. Ternyata sekarang gue baru tau, kemampuan dia mengingat secara detail gak ada hubungannya dengan OCD. Itu murni karena dia emang detektif hebat. Gejala OCD nya adalah mengetukan jari itu, jadi sebenarnya dia reflek ngetukin jari setiap lagi mengingat sesuatu.

Setelah googling dengan berbagai keyword, gue sampai ke penemuan yang gak gue sangka sebelumnya: Obsessive Compulsive Disorder dalam Islam! Ternyata, OCD juga dikenal di dalam dunia islam dan bentuk OCD yang sering dialami umat muslim antara lain:

  • Keraguan tentang jumlah rakaat shalat
  • Ragu telah buang angin apakah telah batal wudhu
  • Pikiran yang menghina tuhan
  • Perasaan bahwa pakaian yang digunakan tidak bersih
  • Dll
Bagian mengagetkannya adalah, gue terjangkit hampir semua poin tersebut. Khusus yang poin kedua malah sering banget, jadi pas lagi shalat gue ngerasa barusan abis kentut. Tapi gue juga gak yakin-yakin banget sih. Alhasil gue tetap ngelanjutin shalat, karena kalau mesti ngulang dari berwudhu udah males banget :'\

Setelah baca-baca gue menemukan solusi Islam untuk OCD. Jadi ada beberpa terapi yang bisa dijadikan solusi, misal:

  • Berhenti menyalahkan diri sendiri
  • Membaca Al Quran setiap hari dan memahami maknanya
  • Menjaga Wudhu
  • Membaca QS An-Nas, Al-Falaq dan Ayat Kursi setiap selesai shalat dan sebelum tidur
  • Dll
Karena udah menemukan solusi yang gue yakini bisa mengatasi masalah ini gue berharap masalah ini benar-benar bisa cepat diselesaikan. Gue rindu hidup normal. Gak perlu lagi ngebuang waktu dan bensin untuk hal gak penting. Bisa ibadah dengan tenang tanpa pikiran aneh yang tiba-tiba datang. Ah, Semoga! :)



Eh iya, untuk artikel tentang OCD bisa dibaca di sinidi sinidi sini juga di sini

Jumat, 19 September 2014

Pengangguran dan Upaya Mengakhirinya

Langkahku semakin lelah berjalan menyusuri
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang bingung lamaran kerja ditolak
Enggak tahu kenapa mungkin kurang syaratnya
Andai saja kupunya
Harta yang berlimpah
Aku tak kan terhina
Pikir-pikir daripada kumelamar kerja
Lebih baik kumelamar kamu

Saat kuliah, lulus ujian komprehensif membuat kita bak raja sehari. Saat lulus ujian skripsi dunia seumpama berada dalam genggam tangan sendiri. Wisuda membuat kita menjadi penguasa tunggal di bumi ini. Tapi sehari setelah peristiwa itu dunia harus kembali ke realitasnya. Saya bukan siapa-siapa. Lulus kuliah hanya membauat perubahan stastus dari mahasiswa menjadi pengangguran. PENGANGGURAN!!!

Awalnya saya pikir lulus kuliah bakal bisa menurunkan beban hidup. Ijazah cukup untuk bisa membuat kita di terima di perusahaan yang diinginkan. Ternyata semuanya tak semudah yang dibayangkan. Ijazah nyatanya hanya bisa membuat kita sampai ke titik di mana kita bisa melamar kerja. Bukan ke titik di mana kita diterima kerja. Itupun cuma perusahaan yang emang mencantumkan sarjana sebagai syaratnya.

Membuat CV yang sedemikian rupa sehingga membuat perusahan tertarik. Membuat lamaran kerja yang cukup untuk membuat dipanggil untuk dites maupun wawancara. Hari-hari jadi berubah menjadi perjuangan mendapatkan kerja, dari jobfair satu ke jobfair lainya. Dari barisan antrian jobfair di dunia nyata hingga barisan antrian di jobfair virtual di dunia maya. Dari mengirim lamaran langsung atau yang hanya via email. Semuanya dilakukan.

Tujuannya jelas, mengurangi satu dari sekian banyak jumlah pengangguran di Indonesia. Membanggakan orang tua dan menyenangkan diri sendiri. Melepaskan diri dari tanggung jawab finansial yang masih ditanggung orang tua. Kemudian mulai mengisi deretan angka di rekening pribadi dengan usaha sendiri.

Tapi saya orang yang masih percaya rezeki gak bakal ketukar. Rezeki kita adalah milik kita. Bila saatnya tiba, segala usaha akan membuahkan hasil. Pantang menyerah, tekun dan tak lupa berdoa. Cita-cita memang harus diwujudkan dan dikejar. Bukan sekedar ditunggu kehadirannya tanpa melakukan apapun. Hanya menunggu keajaiban datang tak akan menghasilkan apa-apa. Bahkan keajaibanpun datang sebagai perwujudan dari ketekunan berusaha bukan?

SEMANGAT!!!
Masa depan cerah menanti untuk ditemui. Menanti untuk dinikmati.