Kamis, 20 November 2014

ELFAST TOEFL Camp Oktober 2014

Minggu dini hari, 12 oktober, saya berangkat menuju Kampung Inggris, Pare. Tujuan utamanya sih buat refreshing, karena udah mulai jenuh dengan rutinitas yang sistematis dan membosankan di Jogja. Nah, Pare dipilih karena sekalian liburan gue tetap bisa belajar. Berbekal searching-searching di internet sebelumnya, ELFAST dipilih sebagai lembaga kursus tempat dimana saya akan belajar. Perihal pemilihan program Toefl, cuma kebetulan karena hanya program Toefl Camp yang nyediain tempat kursus sekaligus camp tempat menginap. Jadi gak susah lagi nyari kos-kosan.

Nah, untuk camp di elfast ini ukuran setiap kamarnya sekitar 3m x 3m dengan 2 ranjang tingkat, jadi setiap kamar ditempati 4 orang. Saya sekamar dengan Sudirman, manusia "aneh" dari Jakarta yang terobsesi pada Kopassus dan Gultor. Punya nama samaran Ar Rizal yang entah apa maksudnya. Paling rajin buat bersih-bersih tapi paling males kalau ikut scoring.

Dewa Ngakan bla bla bla, nama lengkapnya panjang benar, waktu sebulan belum cukup buat ngehafalnya. Terobsesi buat kuliah di Jerman, menyusul pacarnya yang telah duluan. Semoga kecapaian deh.

Terakhir, Reza, paling berondong di antara kami berempat, baru lulus SMA, (mungkin) memutuskan untuk belum lanjut kuliah hingga akhirnya mengungsi sementara ke Pare. Punya kakak cewek yang cakep, juga lagi kursus di ELFAST. Lumayan buat dicengin. Bersama merekalah sebagian besar waktu saya di Pare dihabiskan.

Terhitung senin, keesokan harinya, saya resmi jadi bagian dari Elfast. Memulai rutinitas baru, Belajar Vocabulary dari jam 05.00 - 06.00, Listening (07.00-08.30), Structure (08.30-10.00), Reading (10.00-11.30), Study club (14.30-16.00) dan Scoring 3 kali dalam sepekan, senin, rabu dan jumat di jam 19.15-selesai. Cukup padat, tapi dengan ritme belajar yang enjoy dan para tentor yang ahli di bidangnya semua bisa dilalui dengan mulus. Walau gak mulus-mulus banget sih, karena beberapa kali juga bolos karena alasan capek, ketiduran dan alasan yang dipaksakan ada lainnya.

Selain rutinitas resmi tersebut, hari-hari biasanya dilalui dengan sepedaan, kalau sepedaan pastikan jangan Sudirman yang di depan dan jadi penunjuk jalan. Kalian bakal dibawa entah kemana dan jauh banget. Pulang-pulang badan bakal berasa remuk. Futsal juga rutin tiap kamis malam, mumpung lagi gak scoring. Selain itu, di akhir pekan anak-anak Toefl Camp pada rajin jalan-jalan, di akhir pekan pertama saya gak ikut karena mesti balek ke Jogja Buat ikut tes di OJK. Di minggu kedua, jalan-jalan ke air terjun yang entah apa namanya. (Kalau gak salah sih Tretes, gak tau juga itu nama daerahnya atau nama air terjunnya). Sebelum sampai ke air terjun kita mesti mendaki bukit dengan berjalan kaki sekitar setengah jam. Pengalaman buruk pas pulang dari air terjun, leher saya digigit ulat bulu, jadilah gatal-gatal dan pedih di saat bersamaan hingga keesokan harinya. SIAL!



Di minggu ketiga, perjalanan makin jauh, kali ini liburan ke Pacitan!

Berangkat Jum'at malam, kami berwisata ke pemandian air hangat Tirto Husodo, Goa Gong, Pantai Klayar dan berakhir dengan berenang dan menikmati matahari senja serta sunset di Pantai Banyu Tibo. Eh iya, kami juga sempat mampir ke rumah semasa kecil mantan presiden Indonesia ke-6, SBY.

Goa Gong

Pantai Klayar

Di minggu terakhir makin banyak acara, dari bakar-bakar jagung sampai jalan-jalan ke Goa Surowono. Keakraban makin lekat, dan merasa udah bersaudara dengan mereka. Jadi pas mau balik ke Jogja lumayan sedih juga berpisah sama mereka. Sebulan bersama ternyata sukses membuat banyak cerita, hingga memaksa saya meninggalkan separuh hati di Pare sana.

Semoga akan ada waktu bersama kembali, teman :)

Senin, 06 Oktober 2014

Graduation moments

Sabtu, 30 Agustus 2014 saya akhirnya wisuda. Ibu khusus datang dari Lubuk Jambi untuk wisuda pertama anaknya. Selain ibu, dari kampung Nenek, Pak Nga, Mak Tonga, dan Mai Ase juga datang. :))

Demi menghindari tuduhan no pic = hoax, ini beberapa foto yang bisa jadi bukti :p 













Jumat, 26 September 2014

#AuguriCapitano

Francesco Totti.

38 tahun sudah sejak kamu dilahirkan, kapten. Tak terasa pula bagi kami romanisti telah menyaksikanmu bertahun-tahun. Hingga sekarang sampai sudah kau ke usia yang mereka bilang terlalu tua untuk ukuran seorang pesepakbola profesional. Tapi dengan kokohnya tubuhmu, dan kuatnya semangatmu, usia hanya akan jadi angka tanpa makna.

Mungkin kau sudah tak secepat dulu, tendanganmu tak semematikan ketika itu, tapi visimu, kemampuanmu tetap membuat kamu jadi salah satu yang terbaik di antara mereka. Di lapangan hijau kau tetap seniman agung, karyamu menawan serupa lukisan Pablo Picasso dan Vincent Van Gogh di atas kanvas. 

Saat rekan seusiamu perlahan memutuskan berhenti, kau tetap jadi orang yang berdiri di garda paling depan penyerangan AS Roma. Ban kapten yang tak pernah lepas dari lengan kirimu, jadi tanda bahwa kau jadi pemimpin abadi di tim ini. Kau simbol, kau bendera, dan kau adalah AS Roma itu sendiri. AS Roma adalah Totti dan Totti adalah AS Roma. Seperti yang Baldini pernah katakan, "Tidak ada sepakbola di mana Totti mengenakan jersey selain AS Roma".

Meski kini sampailah kita pada tahun-tahun terakhir karirmu, Waktumu di dunia sepakbola mungkin juga tak akan lama lagi. Akan ada yang menggantikanmu untuk menjadi yang paling depan saat memasuki lapangan. Akan ada yang menggantikanmu ketika wasit memanggil kedua kapten saat pertandingan hendak dimulai. Tapi di hati para romanisti kau tak bisa terganti. Ce solo un capitano!

Semoga di penghujung karirmu, kau bisa merengkuh scudetto lagi. Lalu mengangkat si kuping besar, piala yang kau idamkan selama ini. Selalu doa terbaik untukmu kapten, pemimpin sekaligus penabur inspirasi bagi romanisti. 



Selamat ulang tahun ke 38 kapten. Bahagia untukmu.
Ketika kelak Stadio della Roma resmi digunakan semoga kau masih bisa bermain di sana.


e il momento del capitano! e il nostro capitano! e il simbolo di Roma! e della romanita e il gladiatore gialorosso! e il bimbo de oro! con il numero 10.. FRANCESCOOOO TOOTTTTTIIIII




Senin, 22 September 2014

Obsessive Compulsive Disorder

Pernah ngerasa terlalu was-was dan pikiran jadi menetap hingga tak dapat dikendalikan?
Atau selalu cemas hingga melakukan suatu tindakan secara berulang?
Gue pernah!

Contoh kasus, pas keluar rumah gue udah ngunci pintu. Akan tetapi, karena cemas, di perjalanan gue memutuskan untuk balik lagi ke rumah buat mastiin pintu bener udah kekunci apa belum. Dan ternyata, pintu emang udah kekunci!

Kejadian ini terus berulang, padahal sebelum pergi gue udah yakin pintu udah dikunci. Tapi tetap memutuskan balik pas perasaan cemas datang kembali. Bahkan ketika tempat tujuan udah dekat, gue tetap tak bisa melawan rasa cemas itu dan membuat gue akhirnya memutuskan buat balik lagi, dan keadaan tak berubah seperti sebelum-sebelumnya, pintu emang udah kekunci. Waktu jadi sia-sia. Banget.

Mulai resah dengan keadaan berulang, gue googling tentang keresahan tersebut, lalu ketemulah penyebabnya: OCD! Bukan, ini bukan program buat diet. Tapi Obsessive Compulsive Disorder, semacam kelainan psikis dimana penderitanya dituntut buat jadi perfeksionis dalam hal yang ia lakukan. Nah, setelah banyak baca  gue jadi tau cukup banyak tentang kelainan ini: untuk kasus gue ini masih tergolong mild-OCD, atau bisa dibilang masih ringan. Di keadaan yang lebih buruk, pengidap OCD ada yang jadi takut kuman, hingga selalu berulang menyuci tangan dan selalu menggunakan sarung tangan bahkan sampai tak mau bersentuhan dengan orang lain.


Pernah nonton film The Aviator, As Good as it Get, atau Cold Eyes? Itu segelintir dari banyak film yang mengangkat tema OCD. Jadi, OCD sebenarnya bukan cerita baru lagi tapi sudah menjadi pembahsan publik hingga menjadi inspirasi dari banyak film. Bahkan di dunia nyata, public figur seperti Cameron Diaz, Leandro Di Caprio, Daniel Radcliffe hingga David Beckham juga mengidap kelainan ini.

Dulu pas lagi nonton Cold Eyes gue ngerasa OCD itu keren, bagaimana enggak seorang detektif muda pengidap OCD Ha Yoon-Joo (Han Hyo-Joo) bisa mengingat setiap detail kejadian hanya dengan melihat kejadian itu sekilas. Dia mengetukkan jarinya ke meja ketika mencoba mengingat detail kejadian dan hasilnya ia ingat semuanya! Gue kagum, bahkan sampai nyobain gaya ngetuk jarinya pas ujian komprehensif kuliah. Dan hasilnya tetap aja gue gak ingat dengan jawaban pertanyaannya. Ternyata sekarang gue baru tau, kemampuan dia mengingat secara detail gak ada hubungannya dengan OCD. Itu murni karena dia emang detektif hebat. Gejala OCD nya adalah mengetukan jari itu, jadi sebenarnya dia reflek ngetukin jari setiap lagi mengingat sesuatu.

Setelah googling dengan berbagai keyword, gue sampai ke penemuan yang gak gue sangka sebelumnya: Obsessive Compulsive Disorder dalam Islam! Ternyata, OCD juga dikenal di dalam dunia islam dan bentuk OCD yang sering dialami umat muslim antara lain:

  • Keraguan tentang jumlah rakaat shalat
  • Ragu telah buang angin apakah telah batal wudhu
  • Pikiran yang menghina tuhan
  • Perasaan bahwa pakaian yang digunakan tidak bersih
  • Dll
Bagian mengagetkannya adalah, gue terjangkit hampir semua poin tersebut. Khusus yang poin kedua malah sering banget, jadi pas lagi shalat gue ngerasa barusan abis kentut. Tapi gue juga gak yakin-yakin banget sih. Alhasil gue tetap ngelanjutin shalat, karena kalau mesti ngulang dari berwudhu udah males banget :'\

Setelah baca-baca gue menemukan solusi Islam untuk OCD. Jadi ada beberpa terapi yang bisa dijadikan solusi, misal:

  • Berhenti menyalahkan diri sendiri
  • Membaca Al Quran setiap hari dan memahami maknanya
  • Menjaga Wudhu
  • Membaca QS An-Nas, Al-Falaq dan Ayat Kursi setiap selesai shalat dan sebelum tidur
  • Dll
Karena udah menemukan solusi yang gue yakini bisa mengatasi masalah ini gue berharap masalah ini benar-benar bisa cepat diselesaikan. Gue rindu hidup normal. Gak perlu lagi ngebuang waktu dan bensin untuk hal gak penting. Bisa ibadah dengan tenang tanpa pikiran aneh yang tiba-tiba datang. Ah, Semoga! :)



Eh iya, untuk artikel tentang OCD bisa dibaca di sinidi sinidi sini juga di sini

Jumat, 19 September 2014

Pengangguran dan Upaya Mengakhirinya

Langkahku semakin lelah berjalan menyusuri
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang bingung lamaran kerja ditolak
Enggak tahu kenapa mungkin kurang syaratnya
Andai saja kupunya
Harta yang berlimpah
Aku tak kan terhina
Pikir-pikir daripada kumelamar kerja
Lebih baik kumelamar kamu

Saat kuliah, lulus ujian komprehensif membuat kita bak raja sehari. Saat lulus ujian skripsi dunia seumpama berada dalam genggam tangan sendiri. Wisuda membuat kita menjadi penguasa tunggal di bumi ini. Tapi sehari setelah peristiwa itu dunia harus kembali ke realitasnya. Saya bukan siapa-siapa. Lulus kuliah hanya membauat perubahan stastus dari mahasiswa menjadi pengangguran. PENGANGGURAN!!!

Awalnya saya pikir lulus kuliah bakal bisa menurunkan beban hidup. Ijazah cukup untuk bisa membuat kita di terima di perusahaan yang diinginkan. Ternyata semuanya tak semudah yang dibayangkan. Ijazah nyatanya hanya bisa membuat kita sampai ke titik di mana kita bisa melamar kerja. Bukan ke titik di mana kita diterima kerja. Itupun cuma perusahaan yang emang mencantumkan sarjana sebagai syaratnya.

Membuat CV yang sedemikian rupa sehingga membuat perusahan tertarik. Membuat lamaran kerja yang cukup untuk membuat dipanggil untuk dites maupun wawancara. Hari-hari jadi berubah menjadi perjuangan mendapatkan kerja, dari jobfair satu ke jobfair lainya. Dari barisan antrian jobfair di dunia nyata hingga barisan antrian di jobfair virtual di dunia maya. Dari mengirim lamaran langsung atau yang hanya via email. Semuanya dilakukan.

Tujuannya jelas, mengurangi satu dari sekian banyak jumlah pengangguran di Indonesia. Membanggakan orang tua dan menyenangkan diri sendiri. Melepaskan diri dari tanggung jawab finansial yang masih ditanggung orang tua. Kemudian mulai mengisi deretan angka di rekening pribadi dengan usaha sendiri.

Tapi saya orang yang masih percaya rezeki gak bakal ketukar. Rezeki kita adalah milik kita. Bila saatnya tiba, segala usaha akan membuahkan hasil. Pantang menyerah, tekun dan tak lupa berdoa. Cita-cita memang harus diwujudkan dan dikejar. Bukan sekedar ditunggu kehadirannya tanpa melakukan apapun. Hanya menunggu keajaiban datang tak akan menghasilkan apa-apa. Bahkan keajaibanpun datang sebagai perwujudan dari ketekunan berusaha bukan?

SEMANGAT!!!
Masa depan cerah menanti untuk ditemui. Menanti untuk dinikmati.

Jumat, 25 April 2014

Kelulusan dan remeh temeh setelahnya

Pernah memikirkan pertanyaan seperti ini:
1. Apakah setiap keberhasilan butuh perayaan?
2. Lebih baik mana, keberhasilan tanpa sebuah perayaan atau merayakan sebuah kesedihan?

Sesuatu kadang kasat mata terlihat begitu sederhana, sedang hal remeh temeh setelahnya sering kali terlupakan saat itu. Di sebuah pesta kelulusan sekolah, akan selalu ada kesedihan karena akan menghadapi sebuah perpisahan. Dua sejoli bisa saja akan segera berpisah. Sahabat-sahabat baik bisa saja akan menjadi jarang bertemu. Bahkan seorang pemalu yang belum mengucapkan cinta kepada pujaan hatinya terancam tak bisa mengungkapkanya selamanya.

Hal-hal demikian tak akan terlihat di sebuah pesta kelulusan. Yang ada hanya kebahagiaan dimana-mana. Mereka kompak untuk melupakan segala persoalan lain, lalu fokus terhadap kebahagiaan mereka. Padahal, tanpa mereka sadari mereka juga sedang merayakan sebuah kesedihan, bukan?

Tak akan ada yang akan mengatakan mereka akan senang untuk merayakan sebuah kesedihan. Walau tanpa sadar mereka merayakannya. Lalu bagaimana dengan tak merayakan sebuah keberhasilan? Ini terdengar sedikit lebih lazim. Mungkin dengan alasan, bahwa tak setiap keberhasilan butuh perayaan. Atau karena masih ada tujuan-tujuan lebih besar untuk mereka capai. Perayaan bisa jadi penting, tapi tak wajib untuk dilakukan.

Sekarang, saya juga terjebak di kejadian serupa meski tak sama persis. Dan alih-alih untuk meraayakan keberhasilalnnya. Saya memilih untuk tak merayakan kesedihan diri sendiri.

Jumat, 07 Februari 2014

Sensasi Seru Raftng Menyusuri Sungai Elo

Sungai Elo terletak di Magelang, Jawa Tengah. Tak jauh dari kompleks Candi Borobudur dan Candi Mendut. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta.

Siang itu, saya, Ikhsan, Iqbal, Hijri, Padzil dan Ayu berangkat menuju Sungai Elo untuk berarung jeram. Ini adalah arung jeram pertama untuk kami semua. Sesampai di sana kami disambut oleh river guide. Setelah mengganti pakaian ke mode siap berenang, kami langsung berangkat ke start point rafting kali ini.

Sebelum memulai pengarungan, river guide memberikan briefing mengenai teknik mendayung, prosedur keselamatan maupun pengetahuan dasar lainnya mengenai arung jeram. Usai briefing dan doa, kami mulai menaiki perahu karet yang akan mengantar kami mengarungi ± 12 KM jarak tempuh dengan waktu tempuh ± 3 jam.

Arus sungai Elo bisa dikatakan tidak begitu deras siang itu. Namun adrenalin saya langsung terpacu begitu melewati jeram pertama. Perahu karet bagian kiri terhempas batu, saya, Padzil dan Ayu yang duduk di sebelah kiri tak pelak langsung terjatuh dari perahu. Ayu panik karena tak bisa berenang, Padzil menolongnya. Saya masih dihanyutkan derasnya ombak dan sesekali menabrak batu. Perih tapi seru. Akhirnya kami bisa berenang dan kembali naik ke perahu.

Sayangnya karena belum siap saat di jeram pertama itu, saya belum melepas kacamata, dan kacamata saya menajdi tumbal pertama arung jeram hari itu. Tenggelam di dalamnya sungai Elo.  Pengalaman di jeram pertama membuat kami lebih hati-hati untuk melewati jeram selanjutnya.

Beruntung saat itu kami punya pemandu yang seru, di setiap aliran sungai yang tidak ada jeramnya dia memberikan game, game pertama setiap orang diminta berdiri di pinggir perahu dan saling berpegangan. Setiap orang diminta untuk berpegangan erat, sehingga jika salah satu jatuh, yang lain ikut jatuh. Sedangkan pemandu, mendayung perahu hingga berputar. Di game ini saya sengaja menjatuhkan diri, membuat semua orang ikut terjatuh. Berhasil. Semua orang kuyup!

Menedekati jeram, semuanya kembali naik ke perahu. Diminta untuk membantu mendayung untuk bisa melewati jeram di antara bebatuan. Beberapa jeram dilewati tanpa masalah. Begitu sampai ke aliran sungai tanpa jeram, game kedua di mulai. setiap orang diminta pindah ke sisi kiri perahu, dan mendayung secara serempak. Perahu karet berputar cepat, setiap orang kecuali pemandu dan Ayu kembali nyebur.

Begitu selanjutnya, jika mendekati jeram, setiap orang sigap menaiki perahu. Namun begitu aliran sungai tanpa jeram, ada maupun tidak ada game dari pemandu, kami suka rela untuk menyeburkan diri sendiri, Kadang dengan salto, bier terlihat lebih keren :p *maklum, anak sungai, sesekali jumpa sungai langsung nostalgia*

Setelah setengah perjalanan, perahu karet berhenti di rest area. Di sini, setiap orang beristirahat, dan disajikan Kelapa muda, snack dan gorengan. Mantap! Sekitar 30 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan.

Dari rest area hingga finish point pun tak jauh berbeda. Kami masih sibuk untuk berenang dan kembali naik perahu mendekati jeram. Di sesi kedua ini ada bagian sungai Elo yang cukup panjang tanpa jeram, di bagian inilah kami semua serempak untuk nyebur dan lomba berenang.

Rafting siang menjelang sore itu seru, pernah perahu karet terbalik hingga setiap orang terjatuh. Pernah pula pemandu meminta yang di bagian kiri untuk mendayung maju, dan yang di bagian kanan mendayung mundur, hingga kami melewati jeram dengan berputar.

Jeram demi jeram terlewati hingga tanpa sadar kami telah sampai di finish point. Pemandu melabuhkan perahu karet di sisi kiri sungai, sedang finish point ada di kanan sungai. untuk menyeberanginya, saya, Padzil, Hijri dan Iqbal sepakat untuk lomba renang tanpa baju pelampung. Padzil finish pertama.  

Setelah sampai di finish point dan pengarungan selesai, kami dibawa ke sebuah resto untuk makan siang. Tentu saja setelah mengganti pakaian terlebih dahulu. Badan yang capek membuat makan saat itu menjadi lahap.

Begitulah cerita Rafting kami di Sungai Elo!

briefing


kelapa muda







Kamis, 06 Februari 2014

Tentang Ujian Komprehensif

Kamis, 23 Januari 2014
Sedari pagi saya digelayuti perasaan gundah yang berlebihan. Pasalnya, siangnya saya harus kembali duduk di kursi panas ujian komprehensif. Bergantian berhadapan dengan 3 orang dosen untuk menjawab pertanyaan lisan. Ujian lisan, terlalu menyebalkan bahkan untuk sekedar dipikirkan. Berbeda dengan ujian tulisan biasa, yang di saat terdesak tentu saja bisa mengandalkan teman maupun contekan. Di ujian lisan, yang bisa diandalkan hanya diri sendiri dan sedikit keberuntungan.

Saya lesu sedari pagi, tidak sarapan, memakai pakaian putih-hitam sesuai peraturan dengan asal-asalan. Dan sampai di kampus masih tanpa pedoman. Ini ujian komprehensif kedua saya, yang pertama bisa dibilang gagal dengan memalukan, saya nyaris tak bisa menjawab satupun pertanyaan dari dosen penguji. Di kesempatan kali ini saya mempersiapkan diri lebih dari sebelumya, gagal di percobaan pertama tentu tak boleh terulang.

Hampir sebulan jelang waktu ujian saya habiskan untuk membaca buku maupun catatan sebagai referensi. Teori Akuntansi, Sistem Pengendalian Manajemen dan Pengauditan, 3 mata kuliah yang ditanyakan di ujian komprehensif. Beruntung saat itu saya punya Tira, dia membantu saya, menyiapkan buku, catatan, ringkasan hingga contoh pertanyaan yang memiliki kemungkinan besar untuk ditanyakan. Sesekali dia membantu mengajarkan dan sesering kali dia memberikan semangat dan motivasi, sesuatu yang paling saya butuhkan.

Dibanding sebelumnya, saya merasa lebih yakin, lebih siap dan lebih punya harapan untuk lulus. "Usaha keras tak akan mengkhianati bukan?" itu prinsip saya. Perjuangan selama hampir sebulan akan segera ditentukan. Meskipun pada akhirnya, di hari yang dinantikan tiba, perasaan ragu mulai mengganggu saya. Kegagalan di kesempatan pertama kembali terbayang. Apakah akan kembali terulang? Ataukah saya bisa mengakhirinya dengan senyuman?

-----------------------------------------------------------------------
Saya dan 5 teman setim telah menunggu kedatangan dosen penguji. Ini hari penentuan. 

Pertama, pengauditan, begitu nama saya dipanggil, saya berdiri dari tempat duduk dan masuk ke ruang ujian, masih diselimuti sedikit keraguan, keraguan yang telah kalah dengan rasa optimistis yang tidak berlebihan. Begitu masuk dan disuruh duduk di kursi panas oleh dosen penguji, saya berdoa, doa yang diajarkan nenek saya untuk keadaan genting seperti ini, katanya dengan doa ini orang yang berhadapan dengan kita akan menjadi lebih baik dan menilai kita lebih positif. Doa selesai. 

Dosen penguji memulai dengan basa-basi, menanyakan asal dan lain sebagainya. Saya menjadi lebih tenang dengan keramahannya. Begitu pertanyaan sebenarnya ditanyakan, saya bisa menjawab dengan cukup meyakinkan. Perasaan lega, nyaris tak ada pertanyaan yang saya lewatkan tanpa jawaban. Ujian pertama selesai, saya riang dengan kejadian barusan. Optimisme meninggi. keraguan lenyap dengan sendirinya.

Ujian kedua, Sistem Pengendalian Manajemen. Dibanding 2 mata kuliah lain, saya mempersiapkan ini lebih baik. Dosen pengujinya adalah dosen yang terkenal di seantero kampus suka menanyakan pertanyaan yang sukar dijawab. Saya masuk ke ruangan dengan keyakinan penuh. Keyakinan yang akhirnya tak bertahan lebih dari dua menit begitu saya berada di ruangan. Bagaimana tidak, bahkan sebelum memberikan pertanyaan, bu dosen telah mencecar perihal perilaku saya saat di perkuliahan yang dia ampu. Perihal saya yang terlalu diam padahal dia berharap setiap mahasiswa mesti aktif di kelas. "Diam saya pasir, bukan emas, dan tanpa arti", begitu katanya. Selain itu dia juga mempermaslahkan saya yang selalu duduk di belakang dan terlalu sibuk dengan dunia saya sendiri. Tidak memperhatikannya sama saja dengan tidak menghargainya, begitu dia menganggap saya. Sederet "ceramah" lain mengikutinya. Seketika itu, lidah saya kelu, badan lesu, rasa optimistis tadi lenyap entah kemana.

Rangakaian "nasihat" berlalu. Dan beliau memulai dengan sebuah pertanyaan, pertanyaan yang tak bisa saya pikirkan jawabannya karena pikiran telah terlanjur ricuh medengarkan deretan "nasihat"" yang tak saya perkirakan. Setiap saya tak bisa memberikan jawaban yang beliau inginkan, seketika nasihat-nasihat berguguran dari bibir beliau, seketika itu pula serasa setiap bagian dari diri saya rusak berserakan.
Saya ingin keluar dari ruangan ini apapun hasilnya!

Akhirnya apa yang harapkan terjadi, ujian selesai, saya keluar dengan wajah lesu, dengan kaki yang diseret lemas. Bena semua nasihat beliau benar, tapi tak saya harapkan untuk mendengarkannya di tempat ini, di saat seperti ini. Tak ada lagi yang saya ingin pikirkan, tidak ujian yang telah berlalu, tidak pula satu ujian yang tersisa. Saya pasrah, tidak ada lagi optimisme seperti sebelumnya. Pasrah, hanya pasrah.

Ketiga, ujian terakhir, Teori Akuntansi. Saya masuk ruangan dengan tanpa harapan. Sekedar formalitas, sekedar menyelesaikan kewajiban. Beruntung di penguji terakhir, tidak ada pertanyaan yang terlalu menyusahkan. Bisa dibilang saya bisa menjawab, walaupun mungkin tidak terlalu meyakinkan. Ujian selesai. Kembali, saya pasrah, hanya pasrah..

Ujian selesai, sekarang saatnya menunggu dosen mendiskusikan kelulusan atau ketidaklulusan. Saya dan 5 teman setim menunggu di luar, menunggu untuk dipanggil dan duduk di kursi pesakitan untuk mendengarkan hasil yang didapatkan.

Peserta pertama dipanggil.. masuk ke ruangan dengan tidak meyakinkan, dan keluar dengan lebih tidak meyakinkan lagi. Dia gagal. Tidak lulus.
Peserta kedua. Sama saja. Tidak lulus.
saya semakin pasrah menunggu giliran.
Peserta ketiga, keluar dengan air mata membasahai pipi. Air mata bahagia, dia lulus!

Giliran saya dipanggil, langkah gontai masuk ruangan, duduk di kursi pesakitan, dan tak berani menoleh ke dosen yang tadi memberikan saya banyak nasihat. 
Ketua tim penguji menanyakan keyakinan saya akan kelulusan. "Di bawah 50 persen, pak", jawab saya lesu. "Berarti kamu beruntung, kamu lulus", jawabnya. Saya tak percaya, beliau memberikan kartu ujian dan berita acara ujian yang telah dicoret tulisan "Tidak lulus"-nya, yang membuat saya langsung percaya dan kemudian mengucapkan terima kasih. Saya menoleh ke "dosen pemberi nasihat" tadi, kemudian mengucapkan terimakasih. Beliau membalas dengan jawaban "saya tidak seburuk yang kamu pikirkan kok" yang membuat saya heran, malu, dan entah mengapa merasa bersalah karena dari tadi memang berpikir tidak baik kepadanya.

Saya keluar dengan perasaan haru. Berulang mengucap syukur, dan berulang mendapat selamat dari teman yang di luar. membahagiakan!

Begitu semua posesi selesai dan saya hendak pulang, tanpa sengaja saya berpapasan dengan "dosen pemberi nasihat", dia berucap "Ternyata kamu lulus juga ya. Maaf tadi saya kerjain", yang membuat saya bengong dan tanpa kata-kata. Hampir setengah jam dan dicecar begitu banyak nasihat dan jantung saya nyaris copot, beliau hanya bilang ngerjain dengan sedikit senyum?

Ah sudahlah, biarkan saja apa yang telah terjadi. Tapi benar kan, "Usaha keras tak kan pernah mangkhianati"