Selasa, 26 April 2011

UN-Moment

Pekanbaru, 26 April 2010

Untuk alasan yang sangat ditunggu, dengan penantian yang berasa sangat panjang akhirnya hari ini tiba. Pengumuman kelulusan SMA sederajat angkatan 2007/2008. siang itu, cemas, ragu, keingin tahuan dan rasa penasaran ku melebur jadi satu. degup kencang jantung, sulit di elakkan saat amplop penuh tanda tanya itu telah ada di tangan. 10 detik.. 30 detik.. semenit.. hingga 5 menit berlalu pun amplop itu belum ku buka. tapi diselang waktu itu aku berlari ke kubah mesjid di sekolah kami. satu rencana ku saat itu, jika begitu amplop di buka dan aku di nyatakan tak lulus. melompat di kubah mesjid itu akan kujadikan sebagai tempat mengakhiri hidup. entah, keturan virus bunuh diri usai pengumuman kelulusan atau karena alasan lain, "Tidak Lulus" menjadi sangat haram di pikiran ku saat itu,

Tapi semua pikiran keruh itu hilang sesaat kubuka amplop itu.

Nama: Al-Iqrom Septari
Nomor ujian: 01-102-054-3
LULUS

yah, aku  kami lulus. Kini suasana jadi sangat haru dengan tangis dan tawa bersatu untuk alasan yang sama "LULUS". tak seorangpun dari kami bersedih ketika itu. jika ada yang menangis, itu hanya tangis haru atas kegembiraan kelulusan ini. 



***

Setelah itu selebrasi berlanjut, corat-coret seragam. seperti mayoritas selebrasi usai pengumuam kelulusan. seragam pun tak luput dari coretan-coretan. semprotan pylox warnai sergam putih-abu" dengan berbagai warna. tak tau apa makna dari corat-coret itu. tapi yang pasti sergam putih-abu" itu jadi saksi bisu pesta kami dari itu. lebih dari sekedar perayaan, dunia menjadi milik kami saat itu, tepat hari ini setahun yang lalu. semua rasa berbagai rupa bersatu untuk alasan yang sama, "LULUS".

yah, kisah sahdu yang menjadi penutup lembaran masa SMA kami :'(

Minggu, 24 April 2011

Belum lima menit

Nina namanya. gadis kecil, 7 tahun umurnya. dari tadi mondar mandir bak setrikaan di depan ruang tunggu di sebuah rumah sakit. baju dekil nya terlihat kontras dengan kinclong nya warna dinding di sekelilingnya. yah, malang nasib Nina saat umur masih belum berkepala satu ia telah menjadi tulang punggung keluarga. sejak ibu nya sakit-sakitan bapak nya pergi entah kemana. jadilah iya penunggu tetap perempatan lampu merah untuk bisa mengecap sesuap nasi dan sebutir obat untuk ibu nya tercinta, ibunya yang kini tergolek tak berdaya di rumah sakit karena penyakit yang ia pun tak tahu apa  namanya.

***

Nina masih sedikit beruntung, surat miskin dari ketua RT membuat ibunya bisa dirawat di rumah sakit tanpa biaya, walau di kamar paling sederhana pula. Sore ini seperti biasa sepulang kerja nya Nina menyempatkan diri menjenguk ibunya. Tapi saat ini perasaan nya cemas luar biasa. Dokter bilang ibunya kini kritis. Jadilah Nina begitu nelangsa. di kulum nya satu permen tangkai yang sempat ia beli sebelum ke rumah sakit tadi, untuk menghilangkan gundah. tapi gundahnya malah kian bertambah. duduk di ruang tunggu menunggu ibu nya menjadi sangat melelahkan bagi nya.

Nina begitu khawatir akan ibunya, ia jelas tak bisa kehilangan surga nya di usia yang masih belia. Nina tak henti  berdo'a walau masih mengulum permen tangkai rasa mint nya yang kini mulai berasa pahit sepahit pikiran nya. Lantunan Do'a nya terhenti saat dokter Aan menyapanya, dokter Aan. Dokter yang merawat ibu nya..

Dilihat nya Mata Dokter Aan yang terlihat sedih.  Nina tau ibu nya telah tiada. Raut muka itu dan firasat nya sebagai seorang anak memberitahu nya lebih cepat dari seorang dokter bahwa ibunya emang telah tiada. air mulai jatuh dari pelupuk mataya, permen tangkai rasa  mint  nya pun jatuh tepat dibelahan rok nya. dengan cepat dokter Aan mengambil nya dan mengembalikan kembali pada Nina, "Hisap kembali lah nak, belum lima menit" ujar dokter Aan dengan senyum yang dipaksakan. Nina mengambilnya, tapi lidah nya telah terlalu kelu karena sedih untuk kembal mengulum permen mint nya.

"Aaah Tuhan, kembalikan juga ibuku sebelum lima menit ini berlalu" pekik Nina didalam hati. Suasana makin nelangsa dalam kebisuan Nina.

Kamis, 21 April 2011

Postingan beres-beres debu

selamat malam :)

Udah pada pernah mampir ke jogja waktu merapi aktif dan ngeluarin debu vulkanik? atau pada pernah datang ke rumah tua yang udah ga di tunggu sekian lama dan di penuhi sarang laba-laba? kalo belum pernah tapi pengen nyobain sensasinya. mampir aja di my Tandakutip ini. aahh, udah hampir sebulanan ga ada cerita baru, nih blog udah penuh debu, dan sarang laba-laba nya pun udah bejibun. 

dari tadi gue sibuk, beres-beres debu di nih blog. dan hasilnya, hahahahachiiiiiiiiiiiiim hachiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiim bersin ga berenti-berenti --" 

Bener yah kata kebanyakan orang, biasanya manusia cuma semangat kalo barang nya masih baru. kalo udah lama pasti bosan, lalu di tinggalin. mungkin seperti itu juga yang dialami blog ini, setengah tahunan sejak blog ini ada gue malah udah mulai malas untuk nge blog <-- penyakit alami manusia.. 

tapi sebenarnya ada alasan tersendiri ngapa gue jeda menulis sejenak. sejak ngebaca tweetnya mbak @asmanadia yang intinya kurang lebih begini "untuk bisa menulis tidak butuh kursus menulis atau sekolah sastra, tapi yang penting banyaklah membaca" gue jadi lebih menggiat membaca. jadilah *cemburu itu peluru* *semester disaster* *Utukki sayap para dewa* dan *3 venus* terbaca selang cuti menulis  gue beberapa saat yang lalu itu. nah usai dapat inspirasi dari hasil membaca novel dan karya-karya fiksi itu, kini gue siap kembali aktif untuk menulis di blog ini :) tentu dengan cerita yang ga mau kalah keren dari novel-novel itu :)
  
okeh. and then,  keep blogwalking in my tandakutip and wait the next post. Hachiiiiiiiiiiiiim. wassalam :)

Minggu, 03 April 2011

Aku yang Kamu

Engkau yang selalu ada di hati ku
Setiap hari selalu saja begitu
Tiap detik selalu saja kamu
Ingin rasanya terlepas dari kamu, sesaat saja

Rasanya ingin pergi ketempat yang tanpa kamu
Aku kan bersembunyi, menjauh dari mu
Ingin juga lari dan pergi ke masa lalu, ke waktu sebelum mengenal kamu
Hanya itu cara melepaskan dan melupakanmu
Awalnya terlihat susah, tapi sekarang aku harus biasa tanpa mu
Namun akhirnya aku menyerah
Aku yang kamu, hatiku berhenti dikamu