Jumat, 25 April 2014

Kelulusan dan remeh temeh setelahnya

Pernah memikirkan pertanyaan seperti ini:
1. Apakah setiap keberhasilan butuh perayaan?
2. Lebih baik mana, keberhasilan tanpa sebuah perayaan atau merayakan sebuah kesedihan?

Sesuatu kadang kasat mata terlihat begitu sederhana, sedang hal remeh temeh setelahnya sering kali terlupakan saat itu. Di sebuah pesta kelulusan sekolah, akan selalu ada kesedihan karena akan menghadapi sebuah perpisahan. Dua sejoli bisa saja akan segera berpisah. Sahabat-sahabat baik bisa saja akan menjadi jarang bertemu. Bahkan seorang pemalu yang belum mengucapkan cinta kepada pujaan hatinya terancam tak bisa mengungkapkanya selamanya.

Hal-hal demikian tak akan terlihat di sebuah pesta kelulusan. Yang ada hanya kebahagiaan dimana-mana. Mereka kompak untuk melupakan segala persoalan lain, lalu fokus terhadap kebahagiaan mereka. Padahal, tanpa mereka sadari mereka juga sedang merayakan sebuah kesedihan, bukan?

Tak akan ada yang akan mengatakan mereka akan senang untuk merayakan sebuah kesedihan. Walau tanpa sadar mereka merayakannya. Lalu bagaimana dengan tak merayakan sebuah keberhasilan? Ini terdengar sedikit lebih lazim. Mungkin dengan alasan, bahwa tak setiap keberhasilan butuh perayaan. Atau karena masih ada tujuan-tujuan lebih besar untuk mereka capai. Perayaan bisa jadi penting, tapi tak wajib untuk dilakukan.

Sekarang, saya juga terjebak di kejadian serupa meski tak sama persis. Dan alih-alih untuk meraayakan keberhasilalnnya. Saya memilih untuk tak merayakan kesedihan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar