Jumat, 30 Desember 2011

#cumanaksirunite - Reuni

Hari ini adalah reuni pertama angkatan kami, setelah lulus dan meninggalkan SMA ini delapan tahun yang lalu.

Aku datang lebih awal diacara ini. Belum banyak orang yang hadir saat aku tiba. Karenanya aku memanfaatkan waktu untuk berkeliling sekolah ini, membanding-bandingkannya dengan delapan tahun yang lalu, saat dimana aku masih belajar disini 6 hari dalam seminggu. Telah banyak perubahan, semacam cat di dinding ruangan kelas yang telah berubah warna. Atau pohon-pohon di taman yang telah jauh lebih tinggi. Setelah cukup lelah berkeliling aku istirahat di bangku batu dibawah pohon palem dibelakang ruangan Osis. Ini tempat paling sering aku datangi ketika ingin menyendiri saat masih bersekolah disini dulu.

***
Aku senang bisa kembali kesekolah ini lagi. Berkumpul dengan teman-teman lama yang beberapa diantaranya namanya telah terlupa olehku. Selain senang, ada banyak perasaan yang bercampur dihatiku. Terutama jika nanti aku bertemu lagi dengan Rahne. Dia teman terbaikku semasa SMA, sebenarnya lebih dari teman, karena kami begitu akrab dan sering bersama. Aku menyukai banyak hal darinya, atau lebih tepatnya aku menyukai semua tentangnya.

Tetapi Sejak lulus SMA, hubungan kami mulai menjauh. Palingan hanya setahun pertama kami masih saling berkomunikasi. Selebihnya aku bahkan tidak tau bagaimana kabarnya. Saat itu aku kuliah ke luar kota, sedang dia tetap di kota ini.

***
"Indra, hei kamu Indra kan?" seseorang menepuk pundak ku dari belakang menghentikan lamunanku. "Iya, Ra.. Rahne?" gelagapku menjawab pertanyaanya. Dia tersenyum, aku membalas dengan senyuman pula.

"Bagaimana kabarmu, Ne?" Aku memulai pembicaraan.

"Cukup baik, Ndra."

"Kamu kok tau aku ada disini?"

"Emang dimana lagi aku harus menemukan kamu selain di tempat ini? Sedari dulupun kamu lebih sering menghabiskan waktu disini dari pada di kelas kan? Aku tau itu, Ndra!"

"Haha. Masih sama seperti dulu, kamu lebih tau siapa aku dari pada aku sendiri, Ne." Untuk beberapa saat kami tertawa karena percakapan ini. Ini satu dari semua hal yang aku suka dari Rahne, dia mengenal diriku lebih daripada aku sendiri.

"Setelah banyak hal yang kita lakukan, setelah hampir delapan tahun berlalu. Akhirnya kita bisa bertemu lagi ditempat ini. Aku senang". Aku memulai kembali pembicaraan. Meski kali ini tanpa basa-basi.

"Aku juga, aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Kamu pergi begitu lama tanpa kabar. Apa mengkhawatirkan kamu, Ndra. Aku menadahkan tangan, kemudian menyelipkan namamu didoaku berharap  kamu baik-baik saja."

"Maaf, aku tidak berpikir kamu merisaukan aku sampai seperti itu. Aku senang kamu mengkhawatirkan ku."

"Jadi kamu pikir aku bisa melupakanmu setelah banyak kisah yang kita ukir bersama? Tidak Ndra, aku tidak bisa melupakanmu begitu saja. Tidak akan pernah." Rahne menjawab dengan nada bicara lebih tinggi.

"Maaf, Ne. Aku tidak bermaksud melupakanmu. Buktinya sekarang aku disini untuk menemuimu, dan ingin bercerita banyak hal bersamamu." Aku mencoba membuat Rahne meredakan kemarahannya. "Aku tau aku salah, aku menyesal. Tidak seharusnya aku melupakanmu." Aku melanjutkan pembicaraan.

"Aku tidak bermaksud menyalahkan kamu, Ndra. Aku hanya sedikit kecewa padamu, bukan memarahimu."

Aku diam, tidak ingin menjawab lagi apa yang dikatakan Rahne. Suasana sejenak hening sebelum Rahne kembali memulai pembicaraan.

"Lihat aku, Ndra. Perhatikan aku, kamu tidak melihat ada yang berubah dariku?" Rahne bertanya dengan mimik sedikit menyedihkan. Itu cukup untuk membuat aku memperhatikannya, memandanginya.  Retinaku menyusuri setiap titik pada dirinya. Dan pada akhirnya tatapanku terhenti tepat dijari manis tangan kirinya. Aku terdiam, sebuah cincin telah melingkar disana. Aku membisu, tidak tau apa yang harus dikatakan.

"Dulu kamu selalu bilang menitipkan rindu di sela jemariku, Ndra. tapi perlahan waktu rindu itu mulai terkikis dan aku tidak lagi menemukannya. Sampai seseorang menggantikannya, dia juga menitipkan rindunya di sela jemariku. Dan cincin ini, ini adalah penjaga rindu dari dia. Agar aku selalu mengingatnya. Sejak hampir sebulan lalu, aku telah bertunangan, Ndra." ujar Rahne, membunyikan lagi keheninganku.

"Selamat yah, Ne. Dulu aku berharap juga punya cincin yang bisa dilingkarkan dijarimu untuk menjaga rinduku. Tapi kita sepertinya tidak berjodoh. Mungkin sepuluh tahun yang lalu, diperkenalan pertama kita, dijabatan tangan pertama kita, garis-garis tangan kita yang beradu telah mengisyaratkan kita hanya akan menjadi sahabat, tidak lebih." Aku berusaha bersikap biasa.

"Iya, Ndra. Aku juga berpikir begitu."

"Beginilah jalan dari takdir kita, Ne. Aku senang pernah menjadi orang dihati kamu. Kita saling suka, saling naksir, namun tidak saling cinta seperti sepasang kekasih saling mencintai". Kemuadian Rahne mengangguk,  mengiyakan pernyataanku.

Lalu panggilan master of ceremony dari atas panggung membuat kami harus berlalu dari tempat ini, dan melangkah menuju tempat yang telah disiapkan pantia reunian.

Sore ini disebuah pertemuan singkat, setelah sekian lama tak bertemu. Aku menemukan Rahne, kecuali cincin di jari manis tangan kirinya, tak ada yang berubah darinya. Aku dan dia sepakat, kami adalah satu dimasa lalu, begitupun sekarang dan sampai kapanpun. Kami sahabat selamanya.

Senin, 26 Desember 2011

Cinta pertama... Mungkin. ( part I )



Malam ini ingatanku melayang jauh menembus batas waktu, menyelip dibanyaknya kenangan akan masa lalu. Kemudian terhenti dimasa sekitar 10 tahun yang lalu. Aku terhenti dikenangan dimana ayahku membelikanku sebuah baju bola berwarna ungu tua dengan tulisan Batistuta dan angka 9 dipunggungnya. Lebih dari sekedar sebuah kain yang dijahit sedemekian rupa, baju itu telah menjadi bagian paling penting dihidupku. Sampai sekarang.


Aku tidak pernah mengenal siapa Batistuta, bahakan belum pernah mendengar namanya setidaknya sampai sebelum ayah membelikan baju itu untukku. Baju itu, nama yang tertulis di baju itu, adalah awal dari sebuah kisah cintaku. Sosok yang pada masa setelah itu akan ku kenal sebagai Gabriel omar batistuta a.k.a batigol. Seorang pemain sepak bola paling luar biasa dimasanya. Aksinya dilapangan rumput hijau di negara yang jauh diujung dunia sana, selalu kutunggu didepan tv tua diruangan keluarga rumah kami. Menyaksikan dia menggiring bola. menyaksikan dia mencetak beberapa gol dengan kostum ungu berlumuran keringatnya itu, menjadi kegembiraan tersendiri bagiku. Sejak saat itu aku mulai mengaguminya. menyukai banyak hal tentangnya. Aku fans nya, bagian dari dia!


***
Disuatu kesempatan beberapa waktu berselang, tak ku lihat lagi kostum ungu itu menutupi badan kekarnya. Kostum ungu itu telah berganti dengan kostum merah marun. Pun dengan nomor 9 dan kain putih bertuliskan huruf 'C' yang biasanya mengalung di lengan nya pun sudah tidak dikenakkanya lagi. angka 9 itu telah berganti ke angka 18, sedang kain putih dengan huruf 'C'nya lenyap entah kemana. Saat aku tanya pada ayah mengapa dia tidak lagi memakai baju yang sama dengan baju yang ku punya, dan mengapa dia berubah sekarang, ayah menjawab, "dia telah berpindah klub, As roma nama klub barunya. klub dengan kostum dominan merah itu, kamu tau kan?". kemudian aku mengangguk mengiyakan. Itulah yang aku ingat dari jawaban ayah ketika itu.


Sejujurnya pun aku tidak peduli kostum warna apa yang dipakainya, atau tim apa yang dibelanya. toh aku juga tidak tau apa nama klub dengan kostum ungu yang selama ini dipakainya. Aku hanya ingin melihat dia melewati beberapa pemain lalu mencetak gol. Kemudian aku akan menceritakannya pada teman-teman disekolah. Itu saja.


Saat Batistuta mulai bermain bersama As roma, usiaku tidak lebih dari tujuh tahun. Aku hanya menonton sedikit pertandingan Batistuta dan As roma-nya. Jika pertandingan dimulai  pukul 8 malam waktu Indonesia, berarti aku hanya menonton babak pertama saja. karena ayah telah sigap untuk menyuruhku tidur tepat saat jam 9 tiba. jika pertandingan dimulai dinihari, biasanya aku hanya menonton beberapa menit pertandingan menjelang waktunya berakhir. Itupun jika aku tidak telat-telat amat saat bangun tidur.


Tapi begitulah bocah kecl itu, tetap tanpa henti mengagumi Batistuta-nya. Bahkan diam-diam tidak hanya Batistuta, dia mulai menyukai As roma secara utuh. Menyukai banyak pemain di tim itu dan mulai menghapal satu persatu nama yang tertera di bagian belakang kostum mereka. Totti dan montella adalah dua nama yang terhapal pertama kali saat itu.


Dan dari sini sebuah kisah-cinta-baru dimulai!


*bersambung*