Minggu, 24 April 2011

Belum lima menit

Nina namanya. gadis kecil, 7 tahun umurnya. dari tadi mondar mandir bak setrikaan di depan ruang tunggu di sebuah rumah sakit. baju dekil nya terlihat kontras dengan kinclong nya warna dinding di sekelilingnya. yah, malang nasib Nina saat umur masih belum berkepala satu ia telah menjadi tulang punggung keluarga. sejak ibu nya sakit-sakitan bapak nya pergi entah kemana. jadilah iya penunggu tetap perempatan lampu merah untuk bisa mengecap sesuap nasi dan sebutir obat untuk ibu nya tercinta, ibunya yang kini tergolek tak berdaya di rumah sakit karena penyakit yang ia pun tak tahu apa  namanya.

***

Nina masih sedikit beruntung, surat miskin dari ketua RT membuat ibunya bisa dirawat di rumah sakit tanpa biaya, walau di kamar paling sederhana pula. Sore ini seperti biasa sepulang kerja nya Nina menyempatkan diri menjenguk ibunya. Tapi saat ini perasaan nya cemas luar biasa. Dokter bilang ibunya kini kritis. Jadilah Nina begitu nelangsa. di kulum nya satu permen tangkai yang sempat ia beli sebelum ke rumah sakit tadi, untuk menghilangkan gundah. tapi gundahnya malah kian bertambah. duduk di ruang tunggu menunggu ibu nya menjadi sangat melelahkan bagi nya.

Nina begitu khawatir akan ibunya, ia jelas tak bisa kehilangan surga nya di usia yang masih belia. Nina tak henti  berdo'a walau masih mengulum permen tangkai rasa mint nya yang kini mulai berasa pahit sepahit pikiran nya. Lantunan Do'a nya terhenti saat dokter Aan menyapanya, dokter Aan. Dokter yang merawat ibu nya..

Dilihat nya Mata Dokter Aan yang terlihat sedih.  Nina tau ibu nya telah tiada. Raut muka itu dan firasat nya sebagai seorang anak memberitahu nya lebih cepat dari seorang dokter bahwa ibunya emang telah tiada. air mulai jatuh dari pelupuk mataya, permen tangkai rasa  mint  nya pun jatuh tepat dibelahan rok nya. dengan cepat dokter Aan mengambil nya dan mengembalikan kembali pada Nina, "Hisap kembali lah nak, belum lima menit" ujar dokter Aan dengan senyum yang dipaksakan. Nina mengambilnya, tapi lidah nya telah terlalu kelu karena sedih untuk kembal mengulum permen mint nya.

"Aaah Tuhan, kembalikan juga ibuku sebelum lima menit ini berlalu" pekik Nina didalam hati. Suasana makin nelangsa dalam kebisuan Nina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar