Senin, 03 Januari 2011

Welcome Exam

Genderang perang telah di tabuh. Yaak, ujian telah di depan mata. Gue mencoba bersiap dengan segala cobaan yang bakal melanda. Ini ujian akhir pertama gue sejak menyandang "gelar" mahasiswa. Gue emang udah biasa menerima ujian, ujian dari sekolah, SD, SMP , lalu SMA. Belum lagi ujian dari sang pencipta. itu udah cukup membuktikan ujian adalah hal biasa bagi gue. Tapi itu belum cukup, itu belum membuat gue tenang saat akan memulai sebuah ujian. Selalu aja ada hal yang membuat gue #galau saat mendengar kata "esok ujian". 


Mungkin semua kegalauan gue tentang ujian, terkait apa yang pernah gue alami saat ujian pertama gue di bangku SMA. saat itu ujian bahasa jerman. bahasa aneh yang mematah-matahkan lidah gue saat mencoba mengucapkan kata "ich liebe dich" "aber jetzt rauche ich nicht mehr" atau kata-kata aneh lainnya. saat gue masih kewalahan dengan bahasa Inggris, mengapa harus ada bahasa Jerman yang harus gue pelajari? pertanyaan yang selalu mencuat di benak gue saat menerima kenyataan ada pelajaran Bahasa Jerman di kurikulum SMA gue. Ketakutan yang menyelimuti pikiran gue terbukti saat ujian Bahasa Jerman pertama gue.


Gue terbelenggu di hakimi sesosok guru. Di depan para terpidana lain secerca pertanyaan di tambah sedikit omelan membuat gue gelagapan. gue tertunduk lesu saat dia mulai menunjukkan bukti tindak kejahatan yang gue lakukan. Sial, gue tertangkap basah mencuri jawaban tetangga sebelah. Bukti-bukti menyudutkan gue. Guru yang dari tadi mengomel dari jauh mulai mendekati, gue semakin salah tingkah. Beliau mengambil Lembar jawaban gue, dan mulai meremuk lalu menyobeknya. Seketika tubuh gue kaku dan membeku. sia-sia perjuangan gue belajar 1 semester hanya karena mencoba mencuri jawaban tetangga sebelah. Seketika dengan emosi memuncak gue melekukan protes. Tapi dengan senyum kemenangan, sang diktator bertangan besi hanya menunjuk pintu. Isyarat bagi gue harus ninggalin kelas dengan nilai hampa.


Kenangan buruk itu lah yang membuat gue menjadi pobhia saat akan menjalani ujian. Bayang-bayang kegagalan masa lalu masih menyelimuti. Dan tak ingin terlalu lama di takuti kenangan masa lalu, gue mencoba untuk bangkit. gue mencoba membuka lembaran baru di tahun baru ini.. Ya Allah, mudahkan lah ujian kali ini. mudah kan lah aku menjawab setiap pertanyaan di lembaran soal itu. Ya Allah, jika aku tidak juga bisa menjawab setiap pertanyaan yang ada, berilah sedikit keajaiban. biarkan lah nilai A menghiasi hasil ujianku walau aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Amiin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar